Kebakaran Lahan di Riau
Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Riau, mengatakan, sekitar 30 persen dari sekitar 3.000 titik api yang menjadi indikator kebakaran di Riau berada di kawasan konservasi. Titik api atau hotspot hasil pantauan satelit hingga kini menjadi indikator terjadinya kebakaran lahan dan hutan. Dibandingkan dengan tahun lalu, jumlah titik api yang terpantau cenderung bertambah.
Karena itu, pemerintah daerah di Riau juga meminta setiap perusahaan perkebunan kelapa sawit dan industri kehutanan untuk membentuk tim reaksi cepat guna menanggulangi kebakaran lahan dan hutan di sekitar konsesinya. Selain itu, pemerintah juga bersama BBKSDA Riau juga tengah merintis sebuah satuan kerja penanggulangan kebakaran lahan dan hutan di tiap kecamatan di seluruh Riau. Satuan kerja itu nantinya akan saling berkoordinasi agar memangkas birokrasi dan mempercepat tindakan saat terjadi kebakaran lahan dan hutan.
Sementara itu, berdasarkan data Badan Lingkungan Hidup Provinsi Riau, tercatat 256 desa di Provinsi Riau merupakan daerah rawan kebakaran lahan dan hutan karena terletak di daerah yang memiliki lahan gambut dan hutan. Satuan kerja itu nantinya juga akan menaungi kelompok masyarakat peduli api yang akan dibentuk di tiap desa.
Berikut analisa saya mengenai kebakaran lahan di Riau
1) PREVENTIF
Menyampaikan penyuluhan mengenai kebakaran lahan ini, sehingga dapat menggerakkan hati masyarakat untuk tidak membakar hutan karna ingin mengubahnya menjadi lahan perkebunan, terutama perkebunan sawit. Dan menjelaskan kepada masyarakat dampak dari pembakaran lahan itu sendiri.
CURATIF
Memadamkan api dengan cara membuat hujan buatan didaerah yang mengalami pembakaran lahan.
3) REHABILITATIF
Melakukan reboisasi didaerah yang sudah habis terbakar
4) PROMITIF
a. Pembagian pupuk untuk warga desa sekitar agar dapat merawat tanah
b. Menggalakkan penanaman pohon
c. Mengajak warga ikut serta dalam upaya perawatan terhadap hutan,